Minggu, 13 Oktober 2019

Materi Kelas IX

Bab 1: Asia dan Benua Lainnya
Mohon maaf, materi masih under construction hehe....mohon bersabar yaaa....
Uji Kompetensi

Bab 2: Perubahan sosial Budaya dan Globalisasi
A. Perubahan Sosial
B. Globalisasi
Uji Kompetensi

Bab 3: Ketergantungan Antarruang dan Pengaruhnya terhadap Kesejahteraan Masyarakat
A. Perdagangan Internasional
B. Konsep Ekonomi Kreatif
C. Pusat-pusat Keunggulan Ekonomi
D. Pasar Bebas
Uji Kompetensi

Bab 4: Masa Kemerdekaan hingga Masa Reformasi
A. Timeline Sekitar Kemerdekaan
B. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
C. Masa Kemerdekaan
D. Masa Demokrasi Liberal

Kamis, 10 Oktober 2019

Materi Kelas VIII

Bab 1: Bab 1 Interaksi Keruangan ASEAN
Mohon maaf, materi masih under construction hehe....mohon bersabar yaaa....
Uji Kompetensi

Bab 2: Pengaruh Interaksi Sosial terhadap Kehidupan Sosial dan Kebangsaan
A. Mobilitas Sosial
B. Pluralitas Masyarakat Indonesia
C. Konflik dan Integrasi dalam Kehidupan Sosial
Uji Kompetensi

Bab 3: Keunggulan dan Keterbatasan Antarruang dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Ekonomi
A. Pelaku Ekonomi
B. Perdagangan Antardaerah, Antarpulau, dan Antarnegara
C. Penguatan Ekomoni Maritim
D. Penguatan Ekonomi Agrikultur
E. Redistribusi Pendapatan Nasional
Unduh materi Bab 3 dalam bentuk komik di sini :)

Bab 4: Masa Penjajahan dan Tumbuhnya Semangat Kebangsaan
A. Kedatangan Bangsa-bangsa Barat di Indonesia
B. Zaman Pergerakan
C. Zaman Jepang
D. Perubahan Masyarakat Pada Masa Penjajahan

Kamis, 18 April 2019

Enam Minggu di Negeri Orang: Sebuah Renungan (Bagian I)



Sungguh, saya tidak menyangka; lagu nasional membuat saya merinding ketika sedang berada di luar negeri! Lagu nasional yang sebelumnya saya sendiri tidak antusias mendengarkannya, sejak saat itu tiba-tiba seolah memiliki makna baru. Betapa nikmatnya berada di negeri sendiri, terlepas dari semua masalah berat yang sedang dihadapi negeri ini. Tulisan ini adalah seri rangkuman dari ‘perjalanan’ saya ketika mengikuti sandwich program pada tanggal 11 April sampai dengan 22 Mei 2016 di Miriam College, sebuah perguruan tinggi yang berada di Manila, Filipina, sebagai bagian dari paket beasiswa yang saya terima dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Universitas Negeri Malang.
Perjalanan saya dimulai pada hari Jumat, 8 April 2016 pukul 10.00 WIB. Saya berangkat dari Bandara Juanda Sidoarjo. Bukan penerbangan langsung ke Manila, karena saya transit di Changi Singapura terlebih dahulu. Penerbangan dengan transit ini didasarkan pada saran direktur Pascasarjana untuk menambah wawasan seluas-luasnya, mumpung ada kesempatan bepergian ke luar negeri. Pasti ada sesuatu di Singapura yang tidak didapatkan di tempat lain.
Penerbangan ke Changi memakan waktu kurang lebih 2 jam. Cukup mendebarkan juga, karena saya belum pernah melalui pemeriksaan keimigrasian. Demi mengikuti aturan penerbangan dan keimigrasian, saya tidak membawa beberapa ‘perlengkapan wajib’ yang biasanya selalu saya bawa ketika travelling; beberapa diantaranya adalah air minum dan korek api. Lolos dari pemeriksaan di Bandara Juanda, dimulailah tantangan perjalanan saya. Waktu tunggu di ruang transit yang ternyata cukup lama membuat saya cukup kelimpungan karena dahaga yang semakin lama semakin terasa. Beruntung, saya bersama 14 orang teman satu kelas di kampus. Kehausan saya terobati dengan air minum yang diberikan teman-teman yang telah berpengalaman melakukan perjalanan udara. Ternyata aturan penerbangan tidak melarang, melainkan membatasi jumlah zat cair yang dibawa penumpang, termasuk air minum. Jumlah zat cair yang diperbolehkan maksimal 200 ml. Jika ada kelebihan, maka zat cair tersebut harus dikurangi di pos pemeriksaan.
Sampai di Bandara Changi, tantangan lain telah menanti; pemeriksaan keimigrasian Singapura yang terkenal ketat itu. Alhamdulillah, pemeriksaan berjalan lancar, dan saya memasuki Bandara Changi, Singapura. Berada di Changi, saya terkesan dengan kedisiplinan warga Singapura, terutama kedisiplinan dalam menjaga kebersihan. Selain dari kesadaran pribadi, kedisiplinan menjaga kebersihan juga tidak terlepas dari komitmen pemerintah Singapura. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kamera pengawas yang berada di setiap sudut bandara, seolah tidak ada bagian bandara yang terlepas dari sorotan kamera. Ketika kita membuang sampah sembarangan dan terekam kamera pengawas, petugas akan memberikan sanksi yang nantinya akan dijatuhkan ketika kita akan meninggalkan bandara. Saya perhatikan lebih jauh, ternyata cleaning service memiliki cara kerja yang berbeda dengan cara kerja cleaning service di Indonesia. Begitu mereka selesai membersihkan sebuah ruangan, mereka selalu memotret ruangan tersebut untuk kemudian dikirimkan sebagai laporan kepada atasan mereka. Hmmm, sungguh menarik sekali….
Satu pertanyaan yang akhirnya terjawab beberapa bulan kemudian adalah kemanakah orang-orang Melayu yang menjadi warga ‘pribumi’ Singapura? Pertanyaan ini begitu menggelitik, mengingat selama di bandara saya hampir tidak menemukan orang-orang Melayu. Sebagian besar yang terlihat adalah orang-orang dari etnis Cina dan Hindi. Ternyata orang-orang Melayu ‘tergeser’ ke lapangan kerja yang lebih bersifat informal. Satu lagi pelajaran baru bagi saya: jangan pernah mau kalah dengan bangsa pendatang. Warga lokal harus mampu mengimbangi warga pendatang, terutama dalam tingkat pendidikan dan ekonomi, supaya tidak kalah dengan warga pendatang. Selama masa transit, saya juga merasakan mahalnya biaya hidup di Singapura meskipun hanya sekitar kurang lebih 3 jam. Untuk sebotol air mineral berukuran 600 ml, kita harus membayar sekitar Rp 9.000! Saya langsung teringat harga air mineral di tanah air yang hanya Rp 5000, itupun kalau kita membeli di mini market. Jika kita membelinya di warung pinggir jalan atau toko kelontong, kita mendapatkan harga yang lebih murah lagi. Setelah boarding room dibuka, saya bersiap untuk penerbangan berikutnya dengan tujuan Manila, Filipina – tentunya setelah proses pemeriksaan yang mendebarkan.
Penerbangan ke Manila memakan waktu kurang lebih 4 jam. Membosankan sekali, karena selama itu saya hanya bisa duduk manis di kursi pesawat. Untuk mengurangi kebosanan, saya membaca majalah dan katalog souvenir yang dijual di atas pesawat. Bosan membaca majalah, akhirnya saya memejamkan mata dan berusaha tidur.
Saya terjaga ketika pesawat telah mulai memasuki kawasan udara Filipina. Terlihat kelip-kelip lampu kota karena pesawat telah mengurangi ketinggian dan mulai mengeluarkan roda pendarat. Hampir tengah malam ketika saya sampai di Bandara Ninoy Aquino International Airport Manila, atau biasa disingkat NAIA oleh orang-orang Filipina. Setelah mengambil bagasi, saya bersama teman-teman mulai berjalan menuju pintu keluar bandara. Yes, the adventure begin! 
Berkat koordinasi yang lancar dengan pihak Miriam College, tempat kami belajar selama di Filipina, kami langsung mengenali koordinator kami. Namanya Isabel Yonzon. Belakangan kami akrab menyapa beliau dengan panggilan Mbak Isah saja. Bersama Mbak Isah, kami langsung ke van yang akan mengantar kami ke kampus.
Perjalanan ke kampus ternyata cukup lama, sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, beberapa teman berbincang santai dengan Mbak Isah untuk mulai mengakrabkan diri. Mbak Isah memperkenalkan beberapa jenis angkutan umum yang sepertinya hanya ada di Filipina: tricycle dan jeepney. Dari penjelasan Mbak Isah, kami mulai mengetahui salah satu masalah yang tengah dihadapi Manila dan sekitarnya, yaitu kemacetan lalu lintas.
Lewat tengah malam ketika akhirnya saya bersama rombongan sampai di kampus Miriam College. Kami turun di dormitory atau asrama mahasiswa Miriam College, tempat tinggal kami selama di Filipina sampai enam minggu ke depan. Belakangan, kami biasa menyebut tempat tinggal kami dengan sebutan dormi. Kami kemudian diarahkan ke beberapa kamar yang telah dipersiapkan; satu kamar untuk dua atau tiga orang. Sebelum masuk kamar, tak lupa saya menyesuaikan jam tangan saya dengan waktu Manila. Terdapat selisih waktu sekitar satu jam lebih awal dibandingkan dengan waktu yang tertera di jam tangan saya. Karena lelah setelah perjalanan sehari penuh, saya segera beristirahat. Rasanya seperti mimpi saja: pagi masih berada di Sidoarjo, siang di Singapura, dan malamnya sudah berada di Manila hehe….
Keesokan harinya, saya mulai merasakan perbedaan pagi antara Malang dengan Manila. Jika di Malang matahari terbit sekitar pukul 5.30, maka di Manila matahari baru terbit setelah pukul 6. Karena “jam bangun” saya tidak berubah, akhirnya saya selalu punya waktu untuk bersantai sekitar 30 menit untuk menunggu waktu sarapan.
Persentuhan saya pertama kali dengan kuliner Fiipina adalah saat sarapan di hari pertama. Sarapan pagi itu adalah roti, telur ceplok, dan daging. Benar-benar bergaya barat. Setiap sarapan, kami selalu didampingi dua juru masak; mereka seringkali menanyakan rasa masakan yang mereka buat. Masakan Filipina didominasi rasa gurih dan manis.
Selesai sarapan dan bersiap-siap, kami dijemput olah Mbak Isah untuk segera berangkat ke kampus yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari dormi. Di kampus, kami diperkenalkan dengan beberapa pejabat yang berhubungan dengan twinning program yang sedang kami ikuti. Beberapa diantaranya adalah Miss Rose Aligada (direktur college), Mr. Francis (pembantu direktur untuk urusan akademik), dan Miss Gail (ketua program kemitraan kampus). Mbak Isah diperkenalkan pula sebagai koordinator program kemitraan kampus. Kami juga mendapat penjelasan tentang Miriam College secara singkat, meliputi sejarah berdirinya Miriam College, visi misi, dan perkembangan Miriam College. Berikutnya, disampaikan pula materi matakuliah yang akan kami tempuh selama berada di Miriam College beserta dosen penyajinya. Cukup menyenangkan juga, karena hampir separuh matakuliah yang akan kami tempuh adalah materi sejarah, sesuai jurusan saya saat masih belajar di program sarjana. Terakhir, kami diajak tour untuk mengenal lingkungan kampus beserta fasilitasnya lebih dekat, mulai dari ruang administrasi, ruang kelas, laboratorum, hingga pusat kebugaran yang berada di lantai paling atas. Sebelum kami kembali ke dormi, kami diajak ke ruangan Miss Rose untuk berkenalan lebih dekat.
Siangnya, kami diajak Miss Gail dan Mbak Isah untuk membeli kartu telepon di SM Marikina, sebuah mall yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari kampus. Beberapa teman menyempatkan diri menukarkan uang rupiah dengan uang Peso di bank yang berkantor di dalam mall. Mumpung ada yang mengantar dan membantu berbicara dalam Bahasa Inggris, katanya. Setelah membeli kartu telepon dan menukarkan uang, kami melanjutkan perjalanan ke 168 Mall untuk membeli barang-barang yang akan kami perlukan selama tinggal di Filipina.
168 Mall berjarak sekitar satu jam perjalanan dari SM Marikina. Miss Gail dan Mbak Isah menjelaskan bahwa 168 Mall menyediakan peralatan dapur, makan, dan minum dengan harga relatif paling murah dibandingkan dengan mall-mall yang lain. Setelah diamati, ternyata jika di-kurs-kan, harga barang di Filipina hampir sama dengan harga barang di Indonesia. Sungguh melegakan. Ini berarti kami tidak akan kekurangan uang selama berada di Filipina.
Setelah berbelanja, kami diajak makan di sebuah depot makan yang menyediakan masakan Indonesia. Segera kami memesan nasi goreng, begitu melihat makanan tersebut ada dalam daftar menu. Rasanya agak hambar di lidah, mungkin karena disesuaikan dengan citarasa Filipina. Pemilik depot makan sangat senang ketika mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia, negeri asal nasi goreng. Ia mendapat banyak masukan tentang cara memasak dan bumbu nasi goreng. Dengan pedenya saya bersama seorang teman dari Pasuruan menjadi penerjemah Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, sehingga komunikasi kami di awal kedatangan kami di Filipina lebih terjembatani dengan baik hehe…. Saya jadi teringat potongan lagu lama berbahasa Belanda: geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij (beri saya sepiring nasi goreng dengan telur ceplok, sambal, krupuk, dan segelas minuman yang enak).
Malamnya, kami mengadakan koordinasi untuk membahas teknis makan malam, daftar piket memasak, bentuk souvenir yang akan dibeli sebagai oleh-oleh untuk para dosen pembimbing tesis, kegiatan field trip atau kunjungan wisata selama kami di Filipina, dan persiapan malam kulminasi atau perpisahan yang akan dilaksanakan pada akhir masa studi di Miriam College. Kampus hanya menyediakan sarapan dan makan siang sesuai jadwal makan yang diadakan untuk mahasiswi. Saya menyebutnya mahasiswi, karena ternyata Miriam College adalah college khusus untuk perempuan. Selesai berkoordinasi, kami beristirahat.
Keesokan harinya kami diajak berjalan-jalan di Mall of Asia, salah satu mall di Manila yang diklaim sebagai salah satu mall terbesar di dunia. Karena terjebak macet, kami terpisah dalam tiga kelompok yang turun di tiga tempat yang berbeda. Sempat kebingungan juga, karena sinyal ponsel yang timbul tenggelam sehingga kelompok-kelompok kami yang terpencar tidak dapat berkomunikasi dengan cepat. Akhirnya sekitar setengah jam kemudian setelah saling mencari, akhirnya kami dapat kembali berkumpul semua dan mulai menjelajah Mall of Asia bersama-sama.
Mall of Asia adalah supermall yang terdiri dari beberapa mall yang lebih kecil. Karena besarnya, di beberapa tempat dipasang denah mall untuk memudahkan pengunjung dalam menemukan gerai yang menjual barang yang dicari. Hampir sama dengan di tanah air, ada banyak tenaga sekuriti baik (satpam) yang berkeliling maupun yang tinggal untuk melayani para pengunjung. Bedanya dengan di tanah air adalah satpam Filipina dipersenjatai dengan pistol dan memeriksa tas setiap pengunjung yang akan memasuki mall, sementara di tanah air, satpam cukup dipersenjatai dengan pentungan kayu dan tidak melakukan pemeriksaan kepada pengunjung yang akan memasuki mall. Hal ini bisa dipahami mengingat di Filipina senjata api diperjualbelikan secara bebas, sehingga satpam Filipina dipersenjatai dengan pistol dan memeriksa tas pengunjung dengan teliti. Mereka membuka tas pengunjung dengan menggunakan stik drum, sehingga pemeriksaan tas dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
Ada pemandangan unik lain yang tidak ditemukan di tanah air saat itu. Sebagian besar anak muda Filipina menutup telinga mereka dengan headset yang terhubung ponsel. Perilaku mereka itu bisa dipahami karena buruknya sinyal mobile data; mereka kemudian lebih mengoptimalkan ponsel mereka sebagai mp3 player. Di tanah air, sebagian besar ponsel dioptimalkan untuk mengakses internet. Belakangan, setelah kembali ke tanah air, saya jadi terbiasa mengoptimalkan ponsel saya sebagai mp3 player. Kami kembali ke dormi menjelang petang dengan naik taksi. Beruntungnya kami, karena tarif taksi di Filipina jauh lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia. Jika dirupiahkan, tarif taksi Filipina hanya setengah dari tarif taksi Indonesia. Harga yang harus dibayar per orang menjadi lebih murah lagi, karena kami selalu naik taksi bertiga, atau kadang malah berempat. Jadilah taksi menjadi moda transportasi andalan kami selama berada di Filipina. Malam itu kami memasak bersama untuk pertama kali. Inilah pengalaman pertama kami memasak bersama; beberapa teman perempuan meracik bumbu, sedangkan yang laki-laki membantu membawa masakan yang sudah matang ke dalam kamar dan mencuci peralatan memasak. Dapur dormi berada di lantai dua, sementara kamar kami berada di lantai satu, sehingga perlu tenaga lai-laki untuk membawa masakan dari dapur ke kamar. Makan malam kami terasa sangat nikmat; ini menjadi salahsatu penguat kebersamaan kami, terutama saat berada di Filipina.
Setelah makan malam, kami berbincang menikmati kebersamaan kami. Ngobrol ringan setelah makan malam kemudian menjadi kebiasaan yang selalu kami lakukan selama di Filipina. Tema perbincangan kami biasanya tidak lepas dari pengalaman pribadi selama hari itu; pengalaman pertama berbicara sehari penuh dalam Bahasa Inggris, masakan Filipina yang kami makan, cuaca, dan apa saja yang harus kami persiapkan untuk kegiatan esok hari. Setelah masa perkuliahan dimulai, tema perbincanganpun bertambah: di kamar siapa kami akan mengerjakan tugas. Meskipun tugas diberikan kepada individu, tetapi kami selalu mengerjakannya bersama-sama, sehingga tugas yang dikerjakan menjadi terasa lebih ringan. Sebagaimana di tanah air, meskipun tugas individu dikerjakan bersama-sama, tetapi kami berkomitmen untuk tidak berplagiasi. Komitmen untuk tidak memplagiasi tugas teman ini kami perkuat karena kami sedang berada di negeri asing. Malu dong dengan diri sendiri dan para dosen yang berkebangsaan Filipina, kalau kami ketahuan meniru pekerjaan teman hehe….
Banyak pelajaran yang saya petik dari keberangkatan dan hari-hari pertama saya di Filipina. Kedisiplinan menjadi awal kelancaran perjalanan saya, terutama disiplin waktu. Karena waktu boarding telah ditentukan dan tidak ada toleransi, maka sedikit keterlambatan bisa mengakibatkan kegagalan untuk melakukan perjalanan. Ketika kita akan melakukan perjalanan yang sangat jauh dalam waktu yang sangat lama dengan jumlah barang bawaan yang sangat terbatas, diperlukan ketelitian untuk membawa barang-barang apa saja yang benar-benar kita perlukan; jangan sampai ada barang penting, terutama dokumen, tertinggal di rumah. Untuk tujuan itu, saya sengaja mulai packing kurang lebih lima hari sebelum berangkat. Pengetahuan awal berkaitan dengan proses perjalanan juga sangat penting untuk diketahui, terutama jika kita melakukan perjalanan udara; berapa kilogram batas yang diperbolehkan untuk bagasi (jika ada kelebihan berat, berarti kita harus membayar biaya tambahan), dan benda apa saja yang boleh dibawa ke dalam kabin pesawat. Ada baiknya juga jika kita menukarkan uang yang kita bawa dalam bentuk dolar Amerika, karena mata uang tersebut dapat diterima di seluruh negara. 
Pengalaman mengikuti perkuliahan, melakukan perjalanan wisata, dan kegiatan yang lain akan dikisahkan pada bagian berikutnya dari seri tulisan ini. Yang jelas, banyak pengalaman yang diperoleh, dan kesan yang sungguh menginspirasi. Ada pula kisah mengharukan dari seorang dosen yang menceritakan kegalauannya tentang bangsa Filipina. Semoga tulisan ini mampu memberikan wawasan baru kepada para pembaca.

Materi Kelas IX

Bab 1: Asia dan Benua Lainnya Mohon maaf, materi masih under construction hehe....mohon bersabar yaaa.... Uji Kompetensi Bab 2: Perubaha...